Hari ini tidak ubahnya seperti hari lainnya, euis
harus menyiapkan tenaga untuk menempuh perjalanan yang panjang menuju sekolah.
Sekolah selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi euis, namun perjalanan ke
sekolah begitu berat untuk di jalani. Apa daya bila bersekolah yang dekat hanya
ada sekolah negeri dan swasta yang biaya masuknya saja tidak terjangkau oleh
euis. Beruntung euis menemukan sebuah madrasa aliyah yang mau menerimanya
bersekolah tanpa harus dipungut bayaran. Sehingga dia bisa melanjutkan
pendidikannya hingga saat ini.
Euis
harus bersabar jika berjalan kaki setidaknya dia membutuhkan 1 setengah jam,
bukan perjalanan yang ringan terlebih bagi euis yang mempunyai penyakit. Karena
itu dia tak mau memacu langkahnya terlalu cepat, ia memilih langkah pelan namun
pasti. Terkadang apabila euis membawa uang dia pergi kesekolah naik angkot.
Bisa sekolah dengan angkutan umum bagi euis adalah sebuah kemewahan, dalam
seminggu paling-paling hanya satu kali saja dia bisa pergi dengan angkutan
umum. Yaitu pada hari senin, saat ada upacara bendera rutin di sekolah.
Jika
di paksakan dengan berjalan kaki euis tidak akan kuat mengikuti upacara itu.
Yang membuat lebih lama eius tiba di sekolah bukan karena jarak jalan yang
jauh, namun karena fisiknya yang mudah lelah. Euis harus beberapa kali
beristirahat, agar tidak kelelahan dijalan. Ia takut jatuh pingsan apabila ia
kelelahan dan jatuh pingsan dijalanan.
Sesampainya
di sekolah sayangnya pelajaran sudah mulai, ini buka kali pertamnnya dia datang
terlambat. Beruntung euis termasuk siswa yang berprestasi di sekolah,
guru-gurunyapun memahami kondisi euis karnanya ia tidak pernah mendapatkan
hukuman. Sejak duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama euis
terkenal sebagai murid yang berprestasi. Ia selalu menduduki gelar peringkat
pertama atau ke dua di kelasnya. Ketekunannya menuntut ilmu semata-mata ia
lakukan demi sang ibu. Ia berharap dengan prestasi yang baik, kelak akan mengubah
jalan hidup keluargannya menjadi baik.
Puisi
adalah salah satu bakan euis yang selalu di asah, kehidupan yang berat dan
keadaan keluarga yang susah membuat euis sering menumpahkan perasaanya melalui
bentuk tulisan. Karena tulisannya itu euis beberapa kali mendapatkan gelar
juara dalam berbagai lomba membuat puisi dan cerpen. Namun ada kekosongan yang
ia rasakan sebagai anak yang masih belia, tentu saja ia begitu membutuhkan
perlindungan dan bimbingan dari seorang ayah. Namun apa mau dikata takdir telah
mengariskan cerita lain di hidupnya. Ia pun tidak ingin mengingkari takdirnya.
Euis hanya merasa
menyesal ayahnya tidak sempat menyaksikan prestasinya. Eius telah terbiasa
berbeda dengan teman-temannya yang lain. Kecerian anak-anak seusiannya hampir
tidak pernah tampak di wajahnya. Ia tidak bisa mengabaikan beban hidup yang di
jalanin keluarganya di rumah. Kekurangan ekonomi saja sudah cukup membuat
pusing ditambah penyakit sang ibu dan penyakit yang ia derita.
Perbedaan
euis dan teman-temannya juga terlihat nyata, saat istirahat euis tidak bisa
pergi jajan dengan yang lain. Ia memang jarang membawa uang untuk jajan,
sekalipun ada ia lebih memilih untuk menghemat saja. Untuk kebutuhan mendadak
takut sewaktu-waktu datang. Ada perasaan malu lantaran terlalu sering menerima
pemberian dari teman-temannya. Bukan hanya sepotong kue ini, seragam euis pun
pemberian dariteman-temannya. Tak terkecuali spatu yang dipakainnya sat ini.
Butir
beras ini adalah penyambung hidup bagi keluaragnya. Sudah puluhan tahun lamannya,
seperi ini lah kesibukan dirumah menumbuh beras untuk di jadikan tepung. Tepung
beras ini lah yang nantinya akan di jadikan serumbaha atau yang sering kita
kenal dengan serabi. Eem kaka euis adalah yang bertugas melakukan pekerjaan
ini. Dulu sang ibu masih bisa bekerja semua proses ini dilakukan dengan ibunya
sementara Eem bisa mengerjakan pekerjaan yang lain.
Namun
seiring berkurangnya kesehatan ibu, Eem lah yang melanjutkan tugas ini menumbuk
beras hingga menjadi tepung bukan pekerjaan yanng ringan, meski beras yang di
tumbuk tiap hari hanya satu liter banyaknya. Sebatang aluh tumbuk ini sangat
berat, menumbuk beras ini harus memakan waktu lebih dari setengah jam lamanya.
Sang ibu yang telah tua dan lemah tentunya tidak bisa lagi mengerjakan.
Tak
seperti Euis yang menjalani pendidikan hinga tamat SMP. Eem tak menamatkan
sekolahnya bahkan tingkat dasar sekalipun, saat sang ayah meninggal Eem baru
lulus dari SD. Sejak itu Eem harus pasrah menghentikan pendidikannya. Saat
usiannya masih belasan tahun Eem menikah dan memiliki seorang anak. Sayangnya
pernikahan itu berujung petaka rumah tangganya tidak harmonis, hingga akhirnya
empat bulan yang lalu suaminya menghilang pergi tanpa pamit kepadanya.
Beras
yang di pakai serabi sama dengan beras-beras lainnya yang biasa mereka makan
setiap hari. Satu liter setengah harus tersedia setiap hari, setengahnya untuk
di santap sedanagkan satu liter sisanya untuk modal membuat surabie. Jika
menumbuk beras bisa di kerjakan sang anak memasak serabi hanya ia bisa lakukan sendiri,
lantaran proses memasak yang mengunakan alat tradisional ini hanya bisa di
gunakan oleh sang ibu. Panasnya bara harus cukup dan tidak berlebih. Jika
terlalu panas surabie bisa cepat hangus dan menghitam.
Selain
memasaknya mengangkat surabie harus hati-hati agar surabie bisa di angkat
dengan sempurna dan tidak rusak. Sayangnya hanya ada empat cetakan surabie di
rumah ini. Jika saja ada lebih banyak cetakan tentunya memangkas waktu dalam
membuatya. Satu liter berasa hanya bisa menghasilkan delapan pasang surabie
yang hargnya seribu rupiah perbuah. Jika laku sebuah saja hanya enambelas ribu
rupiah yang dihasilkan. Uang ini pun tidak selur bisa dipakai, lantaran
sparuhnya harus diputar lagi sebagai modal. Namun berapapun yang dihasilkan
tidak pernah ibu dengan dua orang anak ini kehilangan rasa syukur.
Saat
ini tak ada lagi laki-laki dewasa yang berada di rumah ini, dibilik yang sudah
mulai rapuh, lantai dinding maupun atapnya. Dalam kondisi saat ini Eem harus
memikirkan bagaimana menghidupi anak semata wayangnya saat ini. Iya tidak
pernah menyangka akan berakhir menjadi orang tua tunggal seperti sang ibu.
Terbayang betapa beratnya hidup yang dakan dijalani. Bukan uang banyak dan
harta benda yang ia idamkan, hanyalah kesehatan dan umur panjang agar bisa
mendapingi ibu adik dan anaknya Fikri.
Bagi
mereka yang kekurangan masalah kebutuhan makan masih menjadi pyoritas. Karena
tak jarang banyak anak-anak yang lahir dari keluarga yang miskin tanpa memiliki
kesadara untuk bersekolah. Hanya sebagian kecil saja yang memiliki mimpi besar
untuk menamati sekolah.
Euis
adalah salah satunya, ia tak pernah surut mengejar mimpi-mimpinya meskipun
banyak kendala yang dia hadapi. Paigam-piagam ini adalah bukti kerja keras Euis
dalam memujutkan mimpinya. Ia sering kali menikuti banyak macam lomba, meskipun
sering mengalami kekalahan tak menyurutkan langkahnya untuk terus mencoba
berbagai lomba.
Salah
satu lomba yang ia menangkan adalah membuat cerpen. Euis menjadi juara pertama
mewakili sekolahnya. Kemenanganganya ini membuatnya bahagia sekaligus terharu,
karena apa yang ia tuliskan terinspirasi dari hidupnya sendiri. Yang memiliki
cita-cita yang besar namun terhalan keterbatasan.
Setiap
sore dirinya lah yang bertugas menjajahkan surabuie ini keliling kampung,
mengharap ada seuang seribu duaribu yang di keluarkan orang untuk di tukar
dengan surabienya. Surabie yang sering dibuat oleh warag sekitar sering disebut
surubahan, sekilas memang sama saja dengan surabie dengan umumnya. Namun
surabie ini lebih padat dan legit biasa dimakan dengan kuah pindang ikan
sebagai camilan sore atau pun sebagai penganti nasi.
Saat
ini sudah tidak banyak orang yang menjual surubaha. Lantaran membuannya cukup
repot dan harga jualannya tidak tinggi. Surubaha dikalahkan oleh keberadaan
makanan ringan lainnya, yang lebih mudah di dapatkan. Sebenarnya surubaha
dikampung ini termasuk banyak pengemarnya namun setiap hari menjual surabie
tentunya banyak juga yang merasa bosan. Ini lah yang menjadi pantangan bagi
Euis jika penduduk di sekitar rumahnya tak lagi mau.
Euis
harus menjajah lebih jauh menjajahkan kue ini, tujuannya tak lain agar surabie
ini habis aat pulang kerumah. Lelah kaki melangkah kesana kemari hanya
mengharapkan lembaran uang receh ini. Bagi Euis uang receh ini bukanlah uang
receh yang kecil artinya. Ini adalah biaya untuk melanjutkan hidupnya dan
keluarganya.
Meski
gratis masih ada sedikit biaya yang harus di bayarkan di sekolah. Yaitu biaya
belajar tambahan komputer jumlahnya memang tidak seberapa hanya lima belah ribu
rupiah satu bulan. Bagi mereka yang berkecukupan biaya sebanyak itu tentu bukan
masalah. Namun bagi Euis ada usaha yang harus diajalankan terlebih dahulu untuk
mendapatkan uang itu.
Riuh
suara bocah-bocah kecil ini adalah hiburan tersendiri bagi Euis, sepirasanya
jika satu hari saja ia tidak berjumpa
dengan murid-murid kecilnya ini mereka berkumpul sekedar belajar mengaji bahasa
arab, ilmu agama atau sekedar berbagi pengalaman dengan mereka. Euis Risnawati
sudah daua tahun belakangan ini menjadi guru bagi anak-anak kecil di sekitar
kampung pabuaran Kecamatan tunjung teja Kabupaten Serang Banten.
Tidak
ada upah yang dia dapatkan semua ini ia kerjakan hanya karena ia suka berbagi
dengan anak-anak mengajarkan ilmu agama islam yang ia dapatkan dari sekolah.
Saat mengajar tak terlihat sama sekali dari wajahnya bahwa ia telah emngidap
penyakit yang cukup serius. Sejak kecil tubuhnya sudah di gelayuti sebuah
penyakit yang ia sendiri bahkan tak tau namanya. Karena penyakit itu Euis
sering merasa pusing dan jatuh pingsan, kulitnya pun menjadi pucat dan membuat
selalu terlihat lesu.
Euis
belum pernah memeriksakan penyakitanya kerumah sakit ia hanya pergi ke mantri
desa. Sayangnya karena ketaiadaan biaya hingga kini Euis tak kunjung
memeriksakan kesehatannya secara medis. Ia hanya bisa bersabar menghadapi
sakitnya. Jika sedang kambuh rasa sakit itu menjalar dari kepala hinga
kesekujur tubuh. Jika sudah demikian Euis hanya terdiam menahan sakit hingga
mereda dengan sendirinya. Mengajar seperti ini bisa mambuat ia melupakan penyakit
yang di derita.
Hanya
bermodalkan papan tulis usang dan kapur sebagai alat tulisnnya. Euis merasa
bahwa iya melangkah lebih dekat menuju mimpinya, yaitu menjadi seorang guru.
Sejak kecil Euis memang bercita-cita ingin menjadi seorang guru.
Selain
karena kecintaanya akan profesi itu Euis berharap jika kelak ia bisa jadi guru
ia akan bisa mengeluarkan keluarganya dari kesulitan hidup yang ia alami. Euis juga sadar untuk mewujudkan impiannya ia
harus berusaha sangat keras. Lantaran jadi guru paling tidak ia harus
menamatkan pendidikan. Belum lagi ada jenjang perguruan tinggi yang harus
dijalani utuk itu semua tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Saat
Euis masih duduk di bangku kelas satu SD ayahnya meninggal dunia. Sejak itu ia
hanya tinggal dengan ibu dan seorang kaka perempuannya. Sejak itu lah ibunya
yang menjadi tulang punggungu keluarga, menjadi ibu sekaaligus manjadi ayah
bagi kedua orang anaknya.
Segala
macam pekerjaan ia lakukan mulai dari buruh, berjualan hingga membuat surabie.
Demi mendapatkan rupiah dan menghidupi dirinya dan dua orang anak, namun
belakangan ini sang ibu pun sering sakit-sakitan karena usianya yang makin
menua ibunda Euis pun sudah lama mengidap penyakit yang tidak diketahui
sebabnya. Kian hari deritanya makin parah, hingga membuat pendengaran sang ibu
pun berkurang jauh.
Penyakit
seolah sudah menjadi sahabat bagi Euis dan ibunya barang kali kekurangan
nutrisi yang menjadi salah satu penyebabnya bagaimana tidak, dalam satu hari
mereka hanya makan satu kali saja. Jika ada rezeki lebih barulah dua kali
sehari pagi dan sore. Lauk yang disantapun tidak pernah jauh dari ikan asin, lantaran harganya
yang mura juga awet. Sedikit ikan asin bisa untuk beberapa kali makan. Seperti
Euis ibunya tidak pernah pergi ke dokter kemiskinan membuat mereka tidak pernah
berani memeriksakan diri kerumah sakit.
Terbayang
biaya besar yang akan di keluarkan sedangkan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari saja keluarga ini kesulitan. Menyuapini ibunya adalah satu-satunya
cara agar sang ibu tetap makan, meskipun sebenarnya Euis pun merasa lapar. Ia
belum lagi makan sejak pagi tadi, namun nasi yang ada tingal ini. Selain ibunya
masih ada kaka dan keponakan kecilnya yang harus mengisi perutnya.
Agar
tak memberatkan sang ibu Euis berinisiatif mengumpulkan keping demi keping uang
limaratusan setiap hari. Uang ini nantinya baru akan di ambil setelah satu
bulan saat harus membayarkan biaya komputer.
Euis
ditinggalkan sang ayah saat ia masih duduk di SD kelas satu sekolah dasar. Itu
artinya sepuluh tahun yang lalu, namun detik-detik kepergian sang ayah terasa
masih melekat dalam ingatan. Bagai mana ayahnya bertarung dengan penyakit
paru-paru kronis. Sepuluh tahun hidup tanpa kasih sayang seorang ayah membuat
anak seumuran dirinya merasakan kekosongan, tak ada sosok yang melindungi dan
menaungi.
Terkadang rindunya akan sosok ayah
tidak dapat ia bendungi ingin rasanya
seperti teman-teman yang lainnya memiliki seseorang yang di panggil dengan
sebutan ayah. Hanya doa dan ikhtiar yang tiada putus-putusnya yang bisa di
lakukan Eem dan Euis.