Senin, 30 Juni 2014

Euis Si Penjual Serabi “Setapak Asa Demi Sang Bunda”

Hari ini tidak ubahnya seperti hari lainnya, euis harus menyiapkan tenaga untuk menempuh perjalanan yang panjang menuju sekolah. Sekolah selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi euis, namun perjalanan ke sekolah begitu berat untuk di jalani. Apa daya bila bersekolah yang dekat hanya ada sekolah negeri dan swasta yang biaya masuknya saja tidak terjangkau oleh euis. Beruntung euis menemukan sebuah madrasa aliyah yang mau menerimanya bersekolah tanpa harus dipungut bayaran. Sehingga dia bisa melanjutkan pendidikannya hingga saat ini.
            Euis harus bersabar jika berjalan kaki setidaknya dia membutuhkan 1 setengah jam, bukan perjalanan yang ringan terlebih bagi euis yang mempunyai penyakit. Karena itu dia tak mau memacu langkahnya terlalu cepat, ia memilih langkah pelan namun pasti. Terkadang apabila euis membawa uang dia pergi kesekolah naik angkot. Bisa sekolah dengan angkutan umum bagi euis adalah sebuah kemewahan, dalam seminggu paling-paling hanya satu kali saja dia bisa pergi dengan angkutan umum. Yaitu pada hari senin, saat ada upacara bendera rutin di sekolah.
            Jika di paksakan dengan berjalan kaki euis tidak akan kuat mengikuti upacara itu. Yang membuat lebih lama eius tiba di sekolah bukan karena jarak jalan yang jauh, namun karena fisiknya yang mudah lelah. Euis harus beberapa kali beristirahat, agar tidak kelelahan dijalan. Ia takut jatuh pingsan apabila ia kelelahan dan jatuh pingsan dijalanan.
            Sesampainya di sekolah sayangnya pelajaran sudah mulai, ini buka kali pertamnnya dia datang terlambat. Beruntung euis termasuk siswa yang berprestasi di sekolah, guru-gurunyapun memahami kondisi euis karnanya ia tidak pernah mendapatkan hukuman. Sejak duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama euis terkenal sebagai murid yang berprestasi. Ia selalu menduduki gelar peringkat pertama atau ke dua di kelasnya. Ketekunannya menuntut ilmu semata-mata ia lakukan demi sang ibu. Ia berharap dengan prestasi yang baik, kelak akan mengubah jalan hidup keluargannya menjadi baik.
            Puisi adalah salah satu bakan euis yang selalu di asah, kehidupan yang berat dan keadaan keluarga yang susah membuat euis sering menumpahkan perasaanya melalui bentuk tulisan. Karena tulisannya itu euis beberapa kali mendapatkan gelar juara dalam berbagai lomba membuat puisi dan cerpen. Namun ada kekosongan yang ia rasakan sebagai anak yang masih belia, tentu saja ia begitu membutuhkan perlindungan dan bimbingan dari seorang ayah. Namun apa mau dikata takdir telah mengariskan cerita lain di hidupnya. Ia pun tidak ingin mengingkari takdirnya.
Euis hanya merasa menyesal ayahnya tidak sempat menyaksikan prestasinya. Eius telah terbiasa berbeda dengan teman-temannya yang lain. Kecerian anak-anak seusiannya hampir tidak pernah tampak di wajahnya. Ia tidak bisa mengabaikan beban hidup yang di jalanin keluarganya di rumah. Kekurangan ekonomi saja sudah cukup membuat pusing ditambah penyakit sang ibu dan penyakit yang ia derita.
            Perbedaan euis dan teman-temannya juga terlihat nyata, saat istirahat euis tidak bisa pergi jajan dengan yang lain. Ia memang jarang membawa uang untuk jajan, sekalipun ada ia lebih memilih untuk menghemat saja. Untuk kebutuhan mendadak takut sewaktu-waktu datang. Ada perasaan malu lantaran terlalu sering menerima pemberian dari teman-temannya. Bukan hanya sepotong kue ini, seragam euis pun pemberian dariteman-temannya. Tak terkecuali spatu yang dipakainnya sat ini.
            Butir beras ini adalah penyambung hidup bagi keluaragnya. Sudah puluhan tahun lamannya, seperi ini lah kesibukan dirumah menumbuh beras untuk di jadikan tepung. Tepung beras ini lah yang nantinya akan di jadikan serumbaha atau yang sering kita kenal dengan serabi. Eem kaka euis adalah yang bertugas melakukan pekerjaan ini. Dulu sang ibu masih bisa bekerja semua proses ini dilakukan dengan ibunya sementara Eem bisa mengerjakan pekerjaan yang lain.
            Namun seiring berkurangnya kesehatan ibu, Eem lah yang melanjutkan tugas ini menumbuk beras hingga menjadi tepung bukan pekerjaan yanng ringan, meski beras yang di tumbuk tiap hari hanya satu liter banyaknya. Sebatang aluh tumbuk ini sangat berat, menumbuk beras ini harus memakan waktu lebih dari setengah jam lamanya. Sang ibu yang telah tua dan lemah tentunya tidak bisa lagi mengerjakan.
            Tak seperti Euis yang menjalani pendidikan hinga tamat SMP. Eem tak menamatkan sekolahnya bahkan tingkat dasar sekalipun, saat sang ayah meninggal Eem baru lulus dari SD. Sejak itu Eem harus pasrah menghentikan pendidikannya. Saat usiannya masih belasan tahun Eem menikah dan memiliki seorang anak. Sayangnya pernikahan itu berujung petaka rumah tangganya tidak harmonis, hingga akhirnya empat bulan yang lalu suaminya menghilang pergi tanpa pamit kepadanya.
            Beras yang di pakai serabi sama dengan beras-beras lainnya yang biasa mereka makan setiap hari. Satu liter setengah harus tersedia setiap hari, setengahnya untuk di santap sedanagkan satu liter sisanya untuk modal membuat surabie. Jika menumbuk beras bisa di kerjakan sang anak memasak serabi hanya ia bisa lakukan sendiri, lantaran proses memasak yang mengunakan alat tradisional ini hanya bisa di gunakan oleh sang ibu. Panasnya bara harus cukup dan tidak berlebih. Jika terlalu panas surabie bisa cepat hangus dan menghitam.
            Selain memasaknya mengangkat surabie harus hati-hati agar surabie bisa di angkat dengan sempurna dan tidak rusak. Sayangnya hanya ada empat cetakan surabie di rumah ini. Jika saja ada lebih banyak cetakan tentunya memangkas waktu dalam membuatya. Satu liter berasa hanya bisa menghasilkan delapan pasang surabie yang hargnya seribu rupiah perbuah. Jika laku sebuah saja hanya enambelas ribu rupiah yang dihasilkan. Uang ini pun tidak selur bisa dipakai, lantaran sparuhnya harus diputar lagi sebagai modal. Namun berapapun yang dihasilkan tidak pernah ibu dengan dua orang anak ini kehilangan rasa syukur.
            Saat ini tak ada lagi laki-laki dewasa yang berada di rumah ini, dibilik yang sudah mulai rapuh, lantai dinding maupun atapnya. Dalam kondisi saat ini Eem harus memikirkan bagaimana menghidupi anak semata wayangnya saat ini. Iya tidak pernah menyangka akan berakhir menjadi orang tua tunggal seperti sang ibu. Terbayang betapa beratnya hidup yang dakan dijalani. Bukan uang banyak dan harta benda yang ia idamkan, hanyalah kesehatan dan umur panjang agar bisa mendapingi ibu adik dan anaknya Fikri.
            Bagi mereka yang kekurangan masalah kebutuhan makan masih menjadi pyoritas. Karena tak jarang banyak anak-anak yang lahir dari keluarga yang miskin tanpa memiliki kesadara untuk bersekolah. Hanya sebagian kecil saja yang memiliki mimpi besar untuk menamati sekolah.
            Euis adalah salah satunya, ia tak pernah surut mengejar mimpi-mimpinya meskipun banyak kendala yang dia hadapi. Paigam-piagam ini adalah bukti kerja keras Euis dalam memujutkan mimpinya. Ia sering kali menikuti banyak macam lomba, meskipun sering mengalami kekalahan tak menyurutkan langkahnya untuk terus mencoba berbagai lomba.
            Salah satu lomba yang ia menangkan adalah membuat cerpen. Euis menjadi juara pertama mewakili sekolahnya. Kemenanganganya ini membuatnya bahagia sekaligus terharu, karena apa yang ia tuliskan terinspirasi dari hidupnya sendiri. Yang memiliki cita-cita yang besar namun terhalan keterbatasan.
            Setiap sore dirinya lah yang bertugas menjajahkan surabuie ini keliling kampung, mengharap ada seuang seribu duaribu yang di keluarkan orang untuk di tukar dengan surabienya. Surabie yang sering dibuat oleh warag sekitar sering disebut surubahan, sekilas memang sama saja dengan surabie dengan umumnya. Namun surabie ini lebih padat dan legit biasa dimakan dengan kuah pindang ikan sebagai camilan sore atau pun sebagai penganti nasi.
            Saat ini sudah tidak banyak orang yang menjual surubaha. Lantaran membuannya cukup repot dan harga jualannya tidak tinggi. Surubaha dikalahkan oleh keberadaan makanan ringan lainnya, yang lebih mudah di dapatkan. Sebenarnya surubaha dikampung ini termasuk banyak pengemarnya namun setiap hari menjual surabie tentunya banyak juga yang merasa bosan. Ini lah yang menjadi pantangan bagi Euis jika penduduk di sekitar rumahnya tak lagi mau.
            Euis harus menjajah lebih jauh menjajahkan kue ini, tujuannya tak lain agar surabie ini habis aat pulang kerumah. Lelah kaki melangkah kesana kemari hanya mengharapkan lembaran uang receh ini. Bagi Euis uang receh ini bukanlah uang receh yang kecil artinya. Ini adalah biaya untuk melanjutkan hidupnya dan keluarganya.
            Meski gratis masih ada sedikit biaya yang harus di bayarkan di sekolah. Yaitu biaya belajar tambahan komputer jumlahnya memang tidak seberapa hanya lima belah ribu rupiah satu bulan. Bagi mereka yang berkecukupan biaya sebanyak itu tentu bukan masalah. Namun bagi Euis ada usaha yang harus diajalankan terlebih dahulu untuk mendapatkan uang itu.
            Riuh suara bocah-bocah kecil ini adalah hiburan tersendiri bagi Euis, sepirasanya jika  satu hari saja ia tidak berjumpa dengan murid-murid kecilnya ini mereka berkumpul sekedar belajar mengaji bahasa arab, ilmu agama atau sekedar berbagi pengalaman dengan mereka. Euis Risnawati sudah daua tahun belakangan ini menjadi guru bagi anak-anak kecil di sekitar kampung pabuaran Kecamatan tunjung teja Kabupaten Serang Banten.
            Tidak ada upah yang dia dapatkan semua ini ia kerjakan hanya karena ia suka berbagi dengan anak-anak mengajarkan ilmu agama islam yang ia dapatkan dari sekolah. Saat mengajar tak terlihat sama sekali dari wajahnya bahwa ia telah emngidap penyakit yang cukup serius. Sejak kecil tubuhnya sudah di gelayuti sebuah penyakit yang ia sendiri bahkan tak tau namanya. Karena penyakit itu Euis sering merasa pusing dan jatuh pingsan, kulitnya pun menjadi pucat dan membuat selalu terlihat lesu.
            Euis belum pernah memeriksakan penyakitanya kerumah sakit ia hanya pergi ke mantri desa. Sayangnya karena ketaiadaan biaya hingga kini Euis tak kunjung memeriksakan kesehatannya secara medis. Ia hanya bisa bersabar menghadapi sakitnya. Jika sedang kambuh rasa sakit itu menjalar dari kepala hinga kesekujur tubuh. Jika sudah demikian Euis hanya terdiam menahan sakit hingga mereda dengan sendirinya. Mengajar seperti ini bisa mambuat ia melupakan penyakit yang di derita.
            Hanya bermodalkan papan tulis usang dan kapur sebagai alat tulisnnya. Euis merasa bahwa iya melangkah lebih dekat menuju mimpinya, yaitu menjadi seorang guru. Sejak kecil Euis memang bercita-cita ingin menjadi seorang guru.
            Selain karena kecintaanya akan profesi itu Euis berharap jika kelak ia bisa jadi guru ia akan bisa mengeluarkan keluarganya dari kesulitan hidup yang ia alami.  Euis juga sadar untuk mewujudkan impiannya ia harus berusaha sangat keras. Lantaran jadi guru paling tidak ia harus menamatkan pendidikan. Belum lagi ada jenjang perguruan tinggi yang harus dijalani utuk itu semua tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
            Saat Euis masih duduk di bangku kelas satu SD ayahnya meninggal dunia. Sejak itu ia hanya tinggal dengan ibu dan seorang kaka perempuannya. Sejak itu lah ibunya yang menjadi tulang punggungu keluarga, menjadi ibu sekaaligus manjadi ayah bagi kedua orang anaknya.
            Segala macam pekerjaan ia lakukan mulai dari buruh, berjualan hingga membuat surabie. Demi mendapatkan rupiah dan menghidupi dirinya dan dua orang anak, namun belakangan ini sang ibu pun sering sakit-sakitan karena usianya yang makin menua ibunda Euis pun sudah lama mengidap penyakit yang tidak diketahui sebabnya. Kian hari deritanya makin parah, hingga membuat pendengaran sang ibu pun berkurang jauh.
            Penyakit seolah sudah menjadi sahabat bagi Euis dan ibunya barang kali kekurangan nutrisi yang menjadi salah satu penyebabnya bagaimana tidak, dalam satu hari mereka hanya makan satu kali saja. Jika ada rezeki lebih barulah dua kali sehari pagi dan sore. Lauk yang disantapun tidak  pernah jauh dari ikan asin, lantaran harganya yang mura juga awet. Sedikit ikan asin bisa untuk beberapa kali makan. Seperti Euis ibunya tidak pernah pergi ke dokter kemiskinan membuat mereka tidak pernah berani memeriksakan diri kerumah sakit.
            Terbayang biaya besar yang akan di keluarkan sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja keluarga ini kesulitan. Menyuapini ibunya adalah satu-satunya cara agar sang ibu tetap makan, meskipun sebenarnya Euis pun merasa lapar. Ia belum lagi makan sejak pagi tadi, namun nasi yang ada tingal ini. Selain ibunya masih ada kaka dan keponakan kecilnya yang harus mengisi perutnya.
            Agar tak memberatkan sang ibu Euis berinisiatif mengumpulkan keping demi keping uang limaratusan setiap hari. Uang ini nantinya baru akan di ambil setelah satu bulan saat harus membayarkan biaya komputer.
            Euis ditinggalkan sang ayah saat ia masih duduk di SD kelas satu sekolah dasar. Itu artinya sepuluh tahun yang lalu, namun detik-detik kepergian sang ayah terasa masih melekat dalam ingatan. Bagai mana ayahnya bertarung dengan penyakit paru-paru kronis. Sepuluh tahun hidup tanpa kasih sayang seorang ayah membuat anak seumuran dirinya merasakan kekosongan, tak ada sosok yang melindungi dan menaungi.
            Terkadang rindunya akan sosok ayah tidak dapat ia bendungi  ingin rasanya seperti teman-teman yang lainnya memiliki seseorang yang di panggil dengan sebutan ayah. Hanya doa dan ikhtiar yang tiada putus-putusnya yang bisa di lakukan Eem dan Euis.

1 komentar:

  1. Gadis Sholeha...inspirasi hidup untuk banyak orang...semoga Ridho Allah selalu menyertai setiap langkahnya

    BalasHapus